Aku dan Dua Pria

Aku mengetuk ujung stilletoku dengan tidak sabar. Kemana sih pria ini? Masa jauh-jauh aku dari Jakarta hanya untuk menghabiskan waktu menunggu dirinya. Emang siapa sih dia? Aktor? Presiden? Prince charming? Arghhhh!!!!
Dia bukan sapa-sapa. Dia hanya, hanya, hanya dia. Huff!

Aku melihat jam tanganku entah untuk yang keberapa kalinya. Semenit rasanya sudah berjam-jam, dan sudah lima jam aku menunggunya. Ini masokis, aku menyakiti diriku sendiri. Ini gila,buat apa aku menghabiskan ratusan kilometer hanya untuk menunggu? Arghhh!!!!! Aku benci dirinya!

Buah hitamku bergetar. Sekilas kulihat icon pesan muncul. Pasti darinya. Aku malas memaafkannya hari ini.

“Selamat sore mbak J, udah lama nunggu ya?” Sebuah sapaan membuatku berpaling.

“Robi!” Pekikku kaget dan bangkit dari dudukku. Aku langsung memeluk pria muda itu.

Robi mencium pipiku lembut. Aku tersenyum menerima ciuman itu.

“Udah lama nunggu?” Tanyanya lagi.

Aku tertawa pelan “Nggak koq, baru”

“Syukurlah,aku kira aku telat mbak.”

Aku berusaha mempertahankan senyum, senyum setulus mungkin. Aku tidak sanggup membuat kecewa wajah menggemaskan dihadapanku ini.

Aku baru mau mengucapkan sesuatu kepada Robi, dua tangan asing menutup kedua mataku. Arghhh aku kenal tangan ini. Tapi kegembiraan akan kedatangan dirinya membuatku melupakan kesalahannya.

“Ga lucu!” Ucapku sambil memegang tangan besar itu.

Pemilik tangan itu membuka tangan dan mencium pipi kananku. Ia menciumku hingga kurasakan lidahnya menggelitik pipiku. Ciuman itu membiusku selama beberapa detik.

“Jadi sekarang kamu lebih suka daun muda ya?” Bisiknya di telinga kananku.

Aku menoleh kaget. Lupa akan keberadaan Robi dihadapan kami berdua. Aku menatap malu ke pria muda itu.

Robi tertawa pelan, seperti bisa membaca rasa maluku.

“Saya tidak pernah tau klo Mbak J ternyata sudah punya suami.”

Pria disampingku tertawa dan menarik kursi agar bisa duduk tepat disebelahku. “Saya bukan suami J.”

“Masih pacaran berarti?”

Priaku tertawa lagi. “Anda seperti wartawan infotaiment saja tanya tentang hubungan kami”

Ia meraih tanganku dan menciumnya dalam-dalam. Mulutku seperti terkunci dengan gembok grendel berlapis-lapis. Mungkin wajahku saat ini sudah seperti kepiting rebus karena sentuhan-sentuhan mesra dia.

Robi tertawa pelan dan mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, saya Robi, publisis film terbarunya Mba J.”

“Oh. Publisis to? Saya kira pacar Mba J yang baru.” Priaku tertawa sambil melirik diriku.

Aku mencubit lengannya. Gemas. Bisa-bisanya ia menggodaku di hadapan Robi.

Ia menjabat tangan Robi. “Perkenalkan, saya Gi. Saya mantan suami Mba J”

***

Posted with WordPress for BlackBerry.

4 Comments (+add yours?)

  1. Jia
    Oct 05, 2010 @ 14:21:07

    Aslinyaaaa, gw ngakak baca ini =))

    Biasanya gw yang nulis dan memodifikasi curhat teman-teman jadi cerpen, sekarang guelah korbannya. Walau tentu saja, situasi aslinya enggak begini, *sungguh drama cerpen ini*, aslinya gak sedrama itu. Well, tetep drama sih, masa ratu drama ga maen drama?

  2. zadika
    Oct 05, 2010 @ 17:52:11

    Thanks ya dah mau share cerita dikau menunggu dia kemarin. Sungguh buat gw ngiri dan malah kebayang cerita ini.
    Hihihihihi.
    Skali2 boleh dong story teller di jadiin story. :p ya kan jia?

  3. bimo
    Oct 14, 2010 @ 04:35:39

    Bagus… Tak terduga endingnya, hehehe

  4. zadika
    Oct 14, 2010 @ 04:59:11

    terima kasih ^^v

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing