(3) Vebby

Hidupku bagaikan monumen di tengah kota.
Dibangun dengan gengsi dan seumur hidup menjadi tontonan.
Mereka yang menontonku tidak akan pernah tahu seperti apa perasaanku selama ini.

Juni 1999

“APA?!?” pekikku hingga suaraku menggema di kamar besar milik kedua orangtuaku.

“Hush!! Jangan teriak-teriak. Anak perempuan tidak sopan teriak-teriak seperti itu” ucap Ibu

Aku menurunkan nada suaraku, tapi tetap memekik “Eby, menolak semua rencana Ibu dan Romo”

Ibuku masih tetap duduk menyulam di kursi malasnya dan tidak memperhatikan diriku yang sedari tadi berdiri membeku dihadapannya. “Jangan ngeyel jadi anak, ini semua demi masa depanmu, by”

“Masa bodo dengan masa depan! Ibu bukan Tuhan, begitu juga Romo. Kalian tidak berhak mengatur masa depan Eby” bentakku

Ibu menatapku akhirnya, walau matanya penuh kemarahan karena aku membentak dirinya. Ia melempar sulaman yang sedari tadi ia pegang ke meja disampingnya.

“Kamu bilang apa? Ibu tidak berhak? Siapa yang mengandung kamu sembilan bulan? Siapa yang telah membesarkan kamu hingga berumur 17 tahun seperti saat ini? Siapa? Jika kamu merasa bisa hidup sendiri, maka sekarang keluar! Pergi dari rumah ini tanpa bawa apa-apa. Karena semua yang ada tubuhmu ini milik Romo dan Ibu. Mengerti kamu?”

Spontan aku bergerak mundur beberapa langkah menjahui kursi Ibu. Ibu marah. Baru kali ini aku melihat ibu marah seperti itu.

“Kenapa masih disitu?” tanya Ibu sinis

Aku menunduk. Mulai terisak. Ibu terdiam lama menungguku hingga aku puas menangis sambil berdiri. Ia sama sekali tidak memelukku ataupun meminta maaf karena telah mengusirku. Aku mulai merasa bukan anak kandung ibuku.

“Dengar Vebby. Semua ini demi kebaikan Eby. Ibu dan Romo telah memikirkan semua ini semenjak Eby masih kecil. Eby harus menurut, selama ini permintaan Eby selalu Ibu dan Romo turuti. Sekarang saatnya Eby menuruti permintaaan kami”

Aku tetap menunduk dan diam. Aku bukanlah tipe anak pemberontak, aku pasti kalah dengan semua kata-kata orang tuaku. Aku pengecut. Aku bahkan tidak berani mengambil keputusan ekstrim untuk masa depanku sendiri.

“Sekarang Eby naik ke kamar dan mulai membereskan pakaian Eby. Kita akan berangkat ke London besok sore. Romo telah menyiapakan semua persiapan untuk Eby”

Aku mengangguk dan berbalik keluar dari kamar mewah orang tuaku.

***

November 2000

Sore itu London berwarna oranye. Beberapa daun di pepohonan yang ada di kota mewah ini mulai menguning dan jatuh ke tanah. Aku berjalan keluar dari flat untuk menghirup udara segar. Aku penat tersiksa oleh materi kuliah yang diwajibkan oleh Romo kepadaku. Kurapatkan mantel mewah pemberian dari Ibu, udara di London memang tidak bersahabat dengan kulit asiaku.

“Dingin?” sebuah sapaan dengan bahasa Indonesia mengagetkanku. Spontan aku berpaling dan melihat seorang pria. Pria itu mengenakan pakaian hitam-hitam dan topi bowler. Pakaiannya membuatku teringat akan salah satu tokoh dektektif kembar di Rin Tin Tin.

“Orang Indonesia bukan?” tanyanya lagi penuh senyum. Seperti dihipnotis, aku mengangguk perlahan.

Pria itu tertawa pelan. “Firasatku selalu benar jika disuruh menebak orang Indonesia apa bukan”

Aku mencoba tersenyum, entah harus senang atau sedih bertemu dengan sesama orang Indonesia.

“Saya Wira” ia membuka sarung tangannya dan mengulurkan tangannya.

“Vebby”

“Tinggal sendiri di London? Kuliah? Kerja?” cerocos Wira tanpa berhenti. Sejenak aku kaget karena pria setengah baya itu seperti sedang mengintrogasi diriku. Ia menyadari kegelisahanku dan tertawa lepas.

“Maaf dek Vebby, jika saya banyak tanya. Adik mengingatkan saya akan putri saya di Jakarta”

“Bapak tinggal di Jakarta?”

Pria itu mengangguk dan menatap kosong ke jalanan. “Ia tinggal bersama ibunya”

Aku mencoba tersenyum setulus mungkin, walau aku tidak begitu pintar berbasa-basi dengan orang asing.

Pria itu menoleh menatapku “Putri saya mungkin sudah sebesar dek Vebby, sekarang”

“Memangnya Bapak sudah berapa lama tidak bertemu dengan putri bapak?” tanyaku mencoba berempati

Pria itu menghela nafas. “Sepuluh tahun”

“Lama sekali” desisku perlahan “Kenapa tidak bapak pulang saja ke Indonesia dan bertemu putri bapak?”

Pria itu tersenyum sedih. “Seandainya saya bisa, dik. Saya pasti akan langsung pulang ke Indonesia”

“Kenapa tidak bisa pulang, pak? Karena pekerjaan?”

Pria itu menggeleng. Senyum sedihnya berganti senyum lebar. “Kalo adik sendiri, kuliah atau kerja di London?”

Aku membalas senyuman pria itu “Saya kuliah pak. Kedokteran”

“Wah calon dokter rupanya. Berarti bisa ngobatin saya gratis dong?” Pria itu mengedipkan sebelah matanya

“Masih calon, pak. Baru semester awal”

Pria itu tertawa lepas. “Kamu mirip sekali dengan istri saya. Waktu saya meninggalkan Jakarta, dia juga calon dokter”

Aku ikut tertawa melihat pria itu tertawa. “Bapak plin-plan. Tadi mengatakan saya mirip anak bapak, sekarang bilang saya mirip istri bapak. Jangan-jangan nanti bapak bilang saya mirip dengan ibu bapak lagi”

Tawa pria itu semakin mengeras dan membuat wajahnya sedikit memerah. “Dik Veby bisa melucu juga ya”

Aku mengangguk “Terima kasih atas pujiannya”

Pria itu berhenti tertawa. “Adik sungguh mirip dengan istri saya. Apakah adik keberatan jika adik menggantikan istri saya disini?”

Jantungku serasa berhenti berdetak mendengar ucapan pria itu.

“Maksud bapak?” tanyaku dengan nada meninggi.

Pria itu tersenyum dan menatap wajahku lama. Aku jengah dengan tatapan itu. Ingin rasanya lari dari hadapan pria asing itu. Tapi aku bertahan berdiri dihadapannya dengan tetap menjaga jarak dengan pria itu.

“Nama istriku juga Vebby” ucap pria itu sambil meletakkan tangan kanannya ke dadanya. Raut wajahnya berubah seketika seperti orang kesakitan. Pria itu perlahan jatuh dihadapanku.

Kuberanikan diri untuk berlutut dan memeriksa keadaan pria itu. Pria itu tidak bernafas. Ketika kusentuh pangkal lehernya, aku tidak merasakan denyut apapun di ujung jariku. Pria itu meninggal dunia.

***

As_3d

*cerita ini adalah bagian dari rangkaian 21 cerita paralel*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing