(2) Wira

 

 

Aku mencintai dia. Tapi aku membenci dia.
Dia menjadikanku seperti ini. Terjebak diantara dunia nyata dan khayal

Maret 1980

Pria setengah baya itu menepuk bahuku sambil tertawa terbahak-bahak. Pria itu ayahku. Ia memaksakan semua ini, pernikahan untukku, pernikahan untuk melancarkan usaha bisnis perkebunannya. Aku tidak bisa menolak, karena aku hanyalah seorang anak laki-laki, anak lelaki ayahku.

“Jadi kita tetapkan saja ya. Oktober tahun ini” ucap ayahku penuh perintah

Pria dihadapan kami mengangguk setuju. “Kamu setuju kan, nduk?”

Aku mengalihkan pandangan ke wanita muda berkepang yang sedari tadi duduk terdiam di ruang tamu itu. Dia adalah calon istriku, korban perjodohan ini. Sedari tadi ia menunduk. Sepertinya dia tidak menentang perjodohan ini. Ia mengangguk tanpa perlahan menyetujui ucapan ayahnya.

“Wira, ayo ajak calon istrimu jalan-jalan” Ayah menyenggol lenganku. Aku mengangguk menyuruh wanita muda diseberangku untuk mengikuti langkahku, ia menurut dan mengikutiku dari belakang.

Kami berjalan menyusuri perkebunan teh milik calon mertuaku dengan diam. Ia tidak berbicara sedikitpun semenjak keluar rumahnya dan berjalan dibelakangku seakan-akan aku adalah majikan dan ia pembantu. Aku berhenti berjalan mendadak dan ia menubruk punggungku.

“Aduh!” Ia mengelus-elus dahinya “Maaf, saya tidak sengaja menabrak anda”

Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang kesakitan.

“Apa yang lucu?” ucapnya bingung sambil tetap mengelus-elus dahinya

Aku tetap tertawa, untuk beberapa detik aku tidak bisa berhenti tertawa melihat perpaduan wajah manisnya dan ekspresi wajahnya yang kesakitan. Hari itu aku mulai melupakan dirinya. Melupakan bahwa sesungguhnya aku sudah mempunyai pujaan hati.

***

Oktober 1990

Hari itu adalah sepuluh tahun perayaan pernikahanku. Hari itu, dengan berat hati aku memberitahukan kepadanya bahwa aku telah berselingkuh. Aku belum bisa melupakan kekasih hatiku.

“Maaf” ucapku menunduk. Aku tidak sanggup menatap wajahnya. Wajah yang selama ini menemaniku baik suka maupun duka.

Ia terdiam. Apakah ia menangis? Biasanya wanita akan menangis jika mendengar pengakuan pasangannya selingkuh. Tapi aku tak mendengar isakan apapun. Kuberanikan diri mengangkat wajahku dan menatapnya.

Pandangannya kosong. Matanya tidak menunjukkan kesedihan, hanya kosong. Ia tersenyum ketika aku mengangkat wajahku. Senyumnya terlihat tulus,tidak dibuat-buat.

“Tidak apa-apa” ucapnya serak

“Apakah kamu akan meninggalkanku?” suaraku terdengar parau

Ia tetap tersenyum. “Aku telah berkomitmen untuk hidup bersamamu, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu”

Pandangannya beralih ke tangannya. Ia memutar-mutar cicin yang melekat di jari manisnya. “Kecuali jika kamu yang meninggalkanku”

Aku terdiam.

“Aku begitu mencintai dia” ucapku parau “Tapi aku pun tidak bisa meninggalkanmu. Lebih baik kamu yang pergi, karena aku tidak tahan melihat wanita yang menangis karena kutinggalkan”

Ia kembali menatapku “Aku tidak akan menangis. Jika kamu mencintai dirinya, kejarlah dia. Tapi, jika kamu berpikir kita bisa hidup bersama dengannya, aku akan terima”

“Kamu serius? Kamu mau hidup bersama kami? Bertiga?”

Ia mengangguk dan tetap tersenyum. “Jika itu membahagiakanmu, maka aku akan bahagia”

Aku tidak sanggup menatap senyuman itu. Aku berpaling menatap jari-jariku. Wanita dihadapanku terlalu baik untukku. Aku tak sanggup meninggalkannya, tapi aku lebih mencintai dia dibandingkan wanita ini. Kutatap cincin yang sama seperti ia pakai. Cicin pengikat kami, hidup dan mati.

Ia menyentuh tanganku dan menggengamnya. “Apapun yang engkau pilih, aku akan bahagia, Mas.”

Nafasku semakin sesak mendengar ucapannya.

***

November 2003

Aku menatapnya nanar, ia terlihat begitu sedih. Ia seakan ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tapi tidak berani membuka mulut

“Kamu kenapa sayang?” Aku meraba pelan pipinya.  Ia tetap terdiam menatapku kosong.  Kesedihannya membuat hatiku tertusuk pilu

“Maafkan aku, Wira sayang”  ucapnya serak  “Karena aku, kamu dan istrimu sengsara. Aku memang pengganggu” air matanya menggantung menunggu tumpah

Aku menggeleng.  “Sampai kapanpun aku kan mencintaimu, istriku hanyalah alasan agar orang tua dan anakku tidak sedih”

PRAK!!! Aku menoleh kaget mencari sumber suara. Heira berdiri di belakangku menatapku kaget. Disekelilingnya ada pecahan beling gelas. Heira berbalik cepat dan lari meninggalkan kami berdua.Kakinya yang tidak beralas tertusuk salah satu beling dan meninggalkan jejak darah.

Aku ingin mengejar Heira, tapi kakiku beku, tidak bisa bergerak. Aku kembali menoleh kearahnya. Air matanya telah tumpah ke pipinya

“Sampai kapanpun kita memang tidak bisa bersatu, ra. Kasihan Heira” ucapnya serak disela-sela tangisnya

Aku hanya bisa tertunduk. Tertunduk menatap bayangan dirinya di balik cermin dihadapanku

***

Februari 2004

Aku menatap jasad wanita dihadapanku. Wanita itu diketemukan meninggal di rumahku. Wanita itu adalah Heira.

***

As_3d

*cerita ini adalah bagian dari rangkaian 21 cerita paralel*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing