(1) Anton

It took almost twenty one years to found the true love, but it only took twenty one months to destroy all
It took twenty one weeks to repair all, but it failed because after twenty one days it all gone

Awal 1990…

Perhatianku teralih sejenak. Gadis mungil itu duduk diatas sebuah kursi kayu bersama orang-orang besar. Rambutnya keriting dan poninya melingkar-lingkar di atas dahinya. Wajahnya bulat dengan pipi tembam. Sungguh menggemaskan. Ingin rasanya aku berlari kesana dan mencubit pipinya.

Tapi kuurungkan niatku. Mata besarnya sembab. Ia seperti habis menangis, dan dadanya kembang kempis mengatur nafas. Ia berusaha menghapus air matanya dengan punggung tangannya, tapi air matanya tetap mengalir.

Tanganku tiba-tiba dipegang ibuku. Aku menoleh keatas, menatapnya.

“Kakak, pulang yuk. Udah sore”

Ingin rasanya aku merajuk dan bersikeras untuk tetap tinggal di tempat wisata itu, tapi kulihat mata ibuku berkaca-kaca. Seperti ada kesedihan di balik senyum hangatnya.

“Aku masih mau disini” ucapku pelan berusaha tidak seperti anak cengeng. Aku masih ingin melihat gadis keriting itu.

Ibuku jongkok dan menatap mataku dalam-dalam. “Kakak, besok kan kakak mulai masuk sekolah, jadi kita musti cepat pulang. Biar besok kakak tidak telat bangun ke sekolah. ok?”

Aku mengangguk, terpaksa. Ibu berdiri dan menarikku pelan menuju tempat parkir mobilnya. Aku berjalan mengikuti langkah ibuku sambil terus menatap ke belakang, melihat dirinya. Aku meyakinkan diriku, bahwa itulah gadis impianku.

***

Awal 2000…

BRAK!!!

Seorang cewek dengan penampilan mbok-mbok yang duduk didepanku, menabrak meja-kursiku karena terlalu heboh bercanda dengan teman sebelahnya. Tubuhnya yang besar membuat meja-kursinya terdorong kebelakang menabrak milikku.

Cewek itu menoleh dan cengengesan. “Maaf” ucapnya dan memajukan kursinya.

Aku memutar mataku. Kesal. Mengapa cewek-cewek jaman sekarang selalu heboh jika bertemu dengan sesama cewek lainnya. Apa sih yg mereka bicarakan? Paling-paling tidak jauh-jauh dari urusan cowok atau gosip. Mengesalkan.

Kuputuskan untuk memainkan game di handphoneku. Antusiasme hari pertama orientasi kuliah tidak terlalu membuatku nyaman. Jika seandainya boleh memilih, aku lebih suka tinggal dirumah, tidur ataui main game, dibandingkan mengikuti ospek tidak berguna ini.

“Hai” Suara berbisik pelan memecahkan konsentrasiku. Saat kuberpaling dari handphone, cewek heboh dihadapanku telah mengulurkan tangannya.

“Heira” ucapnya sambil tersenyum

Aku membalas senyumannya dan menjabat tangannya “Anton”

***

Pertengahan 2003…

Aku bosan kuliah. Kenapa aku mengambil jurusan ini? Itulah yang kupikirkan setahun belakangan ini. Setelah tiga tahun kuliah, aku mulai bosan. Bosan dengan rutinitas yang ada. Pagi ke kampus, siang masih di kampus, sore pulang ke rumah langsung tepar sampai malam dan besoknya paginya ke kampus lagi. Aku nyaris tidak punya kehidupan bersenang-senang, apalagi punya pacar. Tidak ada.

Pagi ini seperti biasa aku sampai kampus paling pagi, bahkan terkadang aku lebih dulu datang dibandingkan para iss kampus yang jadwal ngepel lantai pagi. Seharusnya pagi ini sama seperti pagi hari yang tiap hari kurasakan, sepi dan sendiri. Tapi harapanku tidak terkabul.

“Heira?” aku menatap wanita berjilbab yang duduk di depan pintu kelasku dengan tidak percaya.

Heira tersenyum. “Hai, ton”

“Kamu ber-ber-jilbab?” ucapku tergagap

Heira mengangguk.

“Sejak kapan?” aku masih tidak percaya cewek teman sekelasku yang pecicilan ini jadi berjilbab.

“Kemarin”

Aku menatapnya tidak percaya. “Koq bisa?”

Heira mengangkat bahu “Mungkin karena gw mikir belum tentu besok gw masih bernafas”

Aku terdiam mendengarnya ucapannya. Kami berdua membisu. Tidak ada perbincangan lagi sampai jam kuliah pertama dimulai. Akupun berusaha mengambil posisi duduk jauh-jauh dari Heira. Entah mengapa aku takut berdekatan dengannya.

***

Akhir 2003…

Hari ini aku menjadi supir dan pengawal ibuku berkeliling bersilahturahmi dengan saudara-saudara jauhnya. Aku belum pernah diajak Ibu mengunjungi saudara-saudara jauhnya. Semenjak ayahku meninggal, kegiatan lebaran kami hanya jaga rumah kakek, ayah dari ayah. Disana selalu diadakan open house dari tahun ke tahun. Tapi tidak tahun ini, karena jatah libur lebaran Ibu panjang, maka aku dan adik-adikku diajak berkenalan dengan saudara-saudaranya.

Kami memasuki rumah dengan diding bernuasa biru langit. Aku membeku melihat sosok yang berdiri membukakan pintu rumah. Itu Heira. Heira sepertinya kaget melihatku, tapi ia tidak berkata apa-apa. Apakah ini berarti Heira adalah salah seorang saudaraku?

Situasi di dalam rumah mewah itu ternyata ramai. Sudah ada beberapa puluh orang bercengkrama dan saling melepaskan rindu. Aku tersenyum kikuk ketika tuan rumah, orang tua Heira, menyambut kedatangan kami. Ibu dan adikku langsung meninggalkanku menuju saudara-saudara ibu yang lain, sementara aku duduk di salah satu kursi yang disediakan.

“Ternyata kita masih bersaudara” Heira tiba-tiba duduk disebelahku dan tertawa pelan

Aku mengangguk dan tidak ikut tertawa.

“Jelek amat wajah lo. Gada senyumnya ama sekali. Ini lebaran, ton. Bukan UAS” Heira menyenggol lenganku dan cengengesan

Aku menoleh dan tersenyum beberapa detik “Udah puas lihat senyum gw?”

Heira menaikkan alisnya “Lo itu ngga pernah ya mensyukuri apa yang ada di hadapan lo? Ini lebaran. You supposed to be cheerfull”

Aku mendengus dan tertawa sinis. “Maksud lo, gw harus bersyukur dan seneng sodaraan ma lo?”

Heira terdiam dan menatapku dingin. Tatapannya membuatku merasa bersalah mengatakan hal itu. Ia bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkanku. Aku menatap punggung wanita muslimah itu yang semakin menjauh dari kursiku. Semakin lama Heira makin cantik ya? Tunggu sebentar, koq pikiranku jadi kearah kesana? Aku mengikuti kearah Heira berada, menatapnya diam-diam.

Baru kusadari belakangan, hari itu adalah hari terakhirku bertemu dengannya.

***

Akhir 1990

Aku menghampiri dirinya yang sedang asyik main pasir di Kuta. Akhir tahun itu aku diajak keluargaku mengakhiri tahun baru di Bali. Aku tidak menyangka melihatnya disana. Dengan baju renang berbunga dan topi lebar yang kelebaran.

“Aku ikutan ya” ucapku malu-malu

Iya tersipu kaget melihatku sudah ada disampingnya. Ia memberikan sekop plastik yang sedari tadi ia pegang kepadaku. Aku menerima dengan penuh senyum. Kami dengan cepat langsung bercanda dengan saling melempar pasir kearah muka.

“Aku Anton” ucapku langsung mengajak bersalaman dengannya.

Gadis cilik dihadapanku tersenyum dan menjabat tanganku “Ira”

Aku melepaskan tanganku. “Kamu cantik”

Ia menunduk malu. Wajahnya yang memerah karena matahari membuatnya semakin menggemaskan di mataku. Kudekatkan diriku kewajahnya dan menciumnya.

***

As_3d

*cerita ini adalah bagian dari rangkaian 21 cerita paralel*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing