Bolehkan Aku Membunuh Malam Ini?

Cinta ada dimana saja
Cinta bisa datang kapan saja
Cinta pun akan tiba-tiba menghampiri dirimu
Walau saat itu dirimu dalam keadaan senang ataukah sedih
Cinta milik semua orang
Baik yang masih hidup ataupun sudah mati

***

“Bolehkan aku membunuh malam ini?”

Anak berusia 10 tahun itu menatap Ayahnya dengan wajah memelas. Pria berwajah keras itu melotot marah dan menggeleng tegas

“Lalu kapan?”

“Nanti jika usiamu menginjak 20 tahun”

***

“Maaf” ucap Dodi spontan ketika ia tidak sengaja menginjak kaki wanita disampingnya.

Guncangan dalam bus patas itu sangat kencang membuat Dodi berkali-kali kehilangan keseimbangan pagi itu. Wanita disamping Dodi hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Ia tidak berkata apapun dan kembali menatap lurus pemandangan diluar bus.

Dodi tetap menatap wanita di sampingnya. Ia mempelajari wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mata Dodi terhenti ke tangan kanan wanita yang memegang erat tali tas selempangnya.

Tidak ada cincin. No ring attached her Pikir Dodi bahagia

“Pergi kuliah?” Dodi membuka pembicaraan

Wanita itu menoleh kaget. Tidak menyangka akan diajak berbicara selama perjalanannya dalam bus itu.

“Tidak” gelengnya pelan

“Kerja?”

Wanita itu mengangguk.

“Dimana?”

“Kota”

Dodi mengangguk-angguk. “Kerja sebagai apa?”

“Admin”

“Oya, boleh kenalan? Saya Dodi” Dodi mengulurkan tangannya

Wanita itu menatap bingung tangan Dodi. Antara yakin dan tidak yakin menerima jabatan tangan Dodi. Belum sempat wanita itu berpikir apapun, bus Patas itu berhenti mendadak. Wanita itu limbung dan badannya terdorong kearah tubuh Dodi. Dengan sigap, Dodi menangkap tubuh wanita itu dan memeluknya.

Doni mencium bau harum wanita itu. Selama beberapa detik ia terbius dan tidak mau melepaskan pelukannya.

“Tolong lepaskan!” berontak wanita itu

Dodi tersadar dari lamunannya dan melepaskan wanita itu dari pelukannya.

“Maaf” ucap Dodi

Wanita itu tidak berkata apa-apa. Dia menggerakkan tubuhnya menjahui Dodi dan berjalan menuju pintu belakang bis. Sebelum ia turun, Wanita itu menoleh menatap Dodi.

“Nama saya Bella”

***

“Bolehkan aku membunuh malam ini?” tanya sang anak kepada Ayahnya.

Wajah ayahnya saat ini sudah tidak sekeras 15 tahun lalu. Tubuh ayahnya pun tidak setegap dahulu. Ayahnya menoleh dari kursi malas yang hampir setiap hari ia duduki untuk menghabiskan hari.

“Memang kamu mau bunuh apa malam ini?”

Sang anak tersenyum bahagia. Ia akhirnya mendapatkan persetujuan dari ayahnya untuk membunuh.

“Aku berharap bisa mendapatkan singa atau harimau” ucapnya berapi-api “Tapi jika tidak beruntung, babi hutan juga tidak apa-apa”

Ayahnya tertawa lepas. Tak lama ia pun terbatuk-batuk karena nafas tuanya yang tidak lagi sepanjang dahulu.

“Kamu terlalu banyak bermimpi, Nak”

Sang anak tersenyum. “Lebih baik aku membunuh binatang di hutan seperti Ayah, daripada diriku membunuh hati manusia”

***

“Aku hamil”

Dodi menatap kaget wanita muda yang sedang duduk dihadapannya.

“Kurang lebih udah hampir empat minggu”

Dodi tetap terdiam. Shock. Ia tidak tahu harus berkata apa. Wanita dihadapannya mulai kesal karena ekspresi Dodi yang hanya terdiam.

“Are you listening?”

Dodi mengangguk pelan.

“Apakah kamu mencintaiku?”

“Iya” ucap Dodi singkat. Dodi mulai berpikir bahwa wanita itu pasti akan menyuruh Dodi untuk menikahinya

“Maukah kamu melakukan apapun demi cintaku padamu?”

Alis kanan Dodi naik. “Apa?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku”

Dodi menghela nafas. Entah mengapa, ia selalu kalah berbicara dengan wanita itu. Bayang-bayang pernikahan pun mulai menghantui otak Dodi.

“Baiklah. Akan kulakukan apapun”

Gadis itu tersenyum puas. Ia memegang tangan kanan Dodi.

“Aku mau kamu membunuh diriku” Wanita itu menarik tangan Dodi untuk menyentuh dadanya “Dengan tangan ini”

“Bella… Kamu becanda!! Itu tidak mungkin, Aku tidak bisa! ”

Bella menggeleng pelan. “Kamu harus bisa. Aku tidak pantas menjadi istri siapapun”

“Aku mau menikahimu”

Bella menatap mata Dodi lekat-lekat.

“Tapi aku tidak mau kau nikahi!! Aku tidak menginginkan semua ini. Aku lebih baik mati. Mati ditangan orang yang mencintaiku”

***

Ia melemparkan pisau daging itu ke meja kayu dihadapannya

DAG!!!

Pisau itu tepat membelah daging kalkun di atas meja itu menjadi dua bagian. Ia tersenyum puas dan menoleh kearah wanita yang berdiri tidak jauh dari dirinya.

“Ada apa?” bentaknya

Selama beberapa detik Bella merasa ngeri ketika melihat kemarahan pria itu yang ia lampiaskan ketikan membelah kalkun. Tapi cepat-cepat Bella membuang segala ketakutan itu. Bella menatap pria itu dan menghela nafas pelan sebelum berbicara lantang.

“Aku mau minta pertanggungjawaban”

Pria itu langsung mendongak melihat langit-langit dan tertawa terbahak-bahak.

Bella melipat tangannya di dada. Ia sudah mulai muak berada di tempat itu. Terlebih hanya berdua di ruangan yang tidak pantas disebut dapur.

“Apakah ada yang lucu?” tanya Bella sinis

Pria itu menghentikan tawanya.

“Ya kamu” Pria itu kembali tertawa “Tanggung jawab apa? Kamu terlalu banyak menonton sinetron opera sabun”

Bella ingin sekali mengambil pisau yang masih menancap di meja kayu dan menusuk pria itu. Oh bukan, dia ingin mencincang-cincang pria itu, seperti layaknya pelaku mutilasi yang sering ia lihat di televisi. Tapi ia terlalu takut untuk mendekati pria itu.

Pria itu menyadari kekesalan Bella dan melihat wanita itu terus menatap pisau besar dihadapannya.

“Kamu mau membunuhku?”

Giliran Bella tertawa. Tawa sinis.

“Apa gunanya aku membunuhmu?”

Pria itu menatap Bella selama beberapa saat. Ia akhirnya yakin bahwa wanita mungil dihadapannya itu sungguh-sungguh.

“Oke. Apa sesungguhnya yang kamu inginkan? Uang?”

“Bukan!!!” Bella menggeleng yakin “Aku mau dia mati!! Dan harus kamu yang membunuhnya”

Bella menunjuk kesebuah foto. Foto satu-satunya yang terpajang di ruangan itu.

Pria itu kembali tertawa lepas.

***

Dodi sedang berjalan di trotoar merah jalan MH. Thmarin ketika seorang pria menghadang jalannya dan memukul perutnya. Pukulan itu tepat mengenai pankreas Dodi sehingga membuatnya langsung jatuh pingsan.

Dodi tidak tahu berapa lama ia pingsan, tapi ketika ia sadar, ia mengenal tempat dimana ia disekap. Wajah pertama yang ia lihat adalah wajah kakaknya, Aldo.

“Hai adik kecilku” Sapa Aldo “Darimana aja loe?”

“Jadi lo nyuruh kacung lo bikin gw pingsan tengah jalan hanya mau tanya gw darimana aja?” singit Dodi

Aldo tertawa lepas.

“Sorry Dod, Ini semua permintaan istri kecil lo”

“Istri?!?” Dahi Dodi mengkerut. Bingung.

Aldo tertawa lagi. “Si Bella”

Dodi menaikkan sebelah alisnya. “Bella?”

“Dia minta gw untuk bunuh lo”

Tawa Aldo kembali meledak. Sementara Dodi hanya termenung diam berusaha mencerna apa yang telah terjadi.

***

“Bolehkan aku membunuh malam ini?” tanya sang anak kepada Ayahnya.

Ayahnya terbaring lemah dengan beberapa jarum infus menghiasi tangan tuanya. Ayahnya menoleh menatap sang anak.

“Dodi, kamu bukanlah seorang pemburu seperti Aldo. Menembak saja kamu selalu meleset. Bagaimana kamu bisa membunuh binatang?”

“Bukan binatang, Yah”

“Maksudmu apa, Nak?” ucap Ayahnya terbatuk-batuk.

“Aku mau membunuh diriku”

“ANAK BODOH!!!” Teriak pria tua itu, dan ia kembali terbatuk-batuk.

Dodi membantu ayahnya untuk duduk dan mengambilkan air di buffet kecil disebelah tempat tidur ayahnya.

“Maafkan aku, Yah. Lebih baik aku yang membunuh diriku sendiri daripada diriku harus membunuh orang yang kucintai”

***

As_3d
*ini sebenarnya kado hadiah ultah sahabatku satu tahun yang lalu*

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing