Stuck In Love

Surat.
Di sebuah era teknologi dengan facebook, twitter, e-mail, dan messanger, dia memberiku sebuah surat? Ini tahun 2010 bukan? Tapi kenapa ketika ia berdiri di pintu apartemenku dan memberikan surat ini aku berasa di tahun 1970an? Ah aku lebay. Aku belum lahir di era itu, bahkan orangtuaku belum pacaran saat itu.
Kubuka surat itu dengan perlahan. Deg-degan. Koq hanya buka surat seperti ini aku deg-degan ya? Aduh! Ada apa dengan aku ini. Kuhela nafas. Dia bukan siapa-siapaku. Jantungku sayang, jangan buat aku geer dong.

You can think that you can get free from me
You might think that you won’t need me
That you will get something better than me,
But I know that we will be in this forever
You can try to push me from you
But nothing you will do keep us a part
I Love you Bee
Let make this song together

James

Aku tertegun. Apa maksudnya ini?

***

“Beatrix!!” Sebuah teriakan nyaring membuatku menoleh ditengah-tengah ramainya pusat perbelanjaan ini.

Seorang pria jangkung setengah berlari menghampiriku. Edward. Senyum besarnya selalu membuatku terpesona sesaat. Ah seandainya dia tidak mempunyai Angel disampingnya, mungkin aku sudah melancarkan semua jurus andalanku untuk menarik hatinya.
Edward menyium kedua belah pipiku sekilas, lalu mengapit lengan kananku, menarikku berjalan mengikutinya.

“Mau kemana Ed?”

“I wanna show you something”

Edward menarikku menuju sebuah toko perhiasan terkenal di salah satu sudut Mall itu. Aku terpesona dengan betapa berkilaunya semua barang yang ada disana.

“Look this one!” Edward menunjuk ke salah satu cincin yang berada disana

“Lovely”

Edward meminta pelayan toko itu mengambilkan cicin itu dan memberikan cicin itu kepadaku.

“Buat Angel?”

Edward menggeleng.

Aku menaikkan alisku. Masa buatku? Ngga mungkin juga. Aku tertawa dalam hati. Ah aku terlalu menghayal jika pria darah biru dihadapanku akan memberikanku ini.

“This is for someone special” ucap Edward dengan senyum khasnya

“More special than Angel?”

Edward mengangguk. “Sayangnya, dia belum sadar bahwa dia spesial”

“Sapa tuu?” ucapku sambil tertawa dan menyikut lengan Edward. Edward tersenyum lebih lebar dan memainkan matanya. Melirik ke kanan dan kekiri.

“Do you like it?” tanya Edward

“Ya kalau dikasih ke aku, ya ngga nolak” gurauku

Edward menghela nafas. “Sebenernya…”

“Eddy !!” sebuah teriakan khas membuat kami berdua menoleh. James tiba-tiba sudah berdiri dibelakang kami.

“Kamu kemana aja? Ternyata ada disini” James menepuk bahu Edward lalu beralih menatapku. “Hai lovely, Sudah baca suratku kan?”

Jantungku berdetak cepat. Ada perasaan aneh menatap James. Aku berusaha tersenyum membalas tatapannya, dan mengangguk perlahan. Mulutku terkunci. Aku yang cerewet, tiba-tiba tak bisa berkata apa-apa.

***

Sebuah surat kutemukan di lantai ketika ku pulang dan membuka pintu apartemen. Jantungku berdetak kencang. Sampulnya sama seperti surat dari James.

There is nothing i would rather do
Than to sit with you forever
Can’t think of nothing better
Than to be stuck with you
Forever

James

Aku tertegun entah berapa lama menatap surat itu. Lamunanku terpecah ketika ponselku bergetar dari balik saku jaketku. Aku bahkan belum melepas jaketku!!

“Ya?”

“Hai sayang” ucap suara dari ponselku.

Nafasku tertahan. Aku perlahan menjauhkan ponsel dari telingaku. Terlihat nama itu tertulis di layar ponselku. Bram.

“Hai Bram” suaraku bergetar.

“I miss you Dear” ucap pria diseberang sana

Aku menelan ludah. Aku menatap surat ditanganku dengan nanar. Ya Tuhanku…

***

Bram seperti Drakula, ya aku menyebutnya seperti itu. Bram telah menghisap semua darahku, darah cintaku, dan membuatku ketagihan akan cintanya. Aku begitu mencintainya hingga aku tidak rela ketika dia memutuskan untuk menikahi tunangannya.

Bram telah membuatku seperti ini. Berjalan seperti mayat hidup. Tidak tahu harus berjalan lurus ataukah berbelok. Aku tidak punya tujuan ketika dia dengan entengnya berkata harus menikahi tunangannya, dan meninggalkanku sendirian di dunia cintaku.

Saat aku patah hati dan patah arang, Bram memperburuk semua keadaan dengan menikah di tempat pertama kali dia mengatakan akan menikahiku. Dan setelah semua rasa luka yang sudah ia torehkan kepadaku, dia menelpoku dan berkata rindu kepadaku?

Ya Tuhan…

Aku mengalah. Aku bersedia bertemu kembali dengan Bram. Aku harus menunjukkan kepada dirinya aku kuat. Aku bisa berjalan tanpa dirinya disisiku. Dan sekarang, aku  duduk di cafe langgananku dengan laptop dihadapanku. Aku berusaha menenangkan dan mengalihkan pikiranku dari kegalauan akan Bram dengan mengerjakan beberapa proyek.

“Bee?”

Hanya satu orang yang memanggilku seperti itu. Aku menoleh kaget dan menatap bayangan pria itu dihadapanku. James.

“Hai James” ucapku grogi.

James menarik kursi disampingku dan tak sungkan mencium kedua belah pipiku. Sekujur tubuhku kurasakan memanas ketika ia melakukan itu. Padahal itu adalah hal wajar, seharusnya.

“Are you waiting for someone?” tanya James

Aku mengangguk dan berusaha tersenyum. Salah tingkah.

“Tidak apa-apakan aku ikutan nemenin disini?” James tidak menunggu jawabanku, ia langsung memanggil pelayan dan memesan Cold Cappuchino.

James lalu melingkarkan tangan kanannya di belakang punggungku dan ikut menatap layar laptopku. “Lagi ngerjain apa, Bee?”

“Project kantor” terdengar getaran di suaraku

“Are you alright, Bee? Kedinginan?” James merasakan getaran suaraku dan mengelus-elus lengan kananku. Sekujur tubuhku kurasakan memanas ketika ia melakukan hal itu.

“Nggak apa-apa” ucapku serak. “Hanya sedikit kaget melihatmu disini”

James tertawa. “I have something for you”

James mengambil tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah surat dari dalam tas kumal itu. Ia menyerahkan surat itu ketanganku. Oh My… another letter? Dia kan bisa langsung ngomong kepadaku, kenapa musti pake surat-suratan seperti ini? Toh dia bukan tipe pria yang tidak bisa mengungkapkan kata hatinya.

Yesterday, I can say that I would not care If you were not there
I keep tell myself that I’ll be fine without you
But in fact, I would die if I was not around you
I keep try to convince myself that I don’t need to be with you,
But all my thoughts are thingking about you
What can I do, loving you is like glue.
There’s no way to tear us a part

James

Jantungku berdetak kencang. Aku menatap James tidak percaya. Aku sudah lama mengenal James, dan tidak pernah sekalipun dia terang-terangan mengatakan hal ini kepadaku. Apakah ini nyata? James jatuh cinta kepadaku?

James tersenyum dan mencium pipiku kananku. Lama. Mataku terpejam menikmati ciuman itu. Ketika kubuka mataku, aku melihat Bram telah berdiri dihadapanku, ia terpaku menatapku dan James.

***

Untuk pertama kalinya setelah Bram membuangku seperti sampah, aku bisa berkata aku bahagia. Aku bisa tersenyum kepada dunia. Aku bisa mengatakan, Aku penuh cinta!!!

Kulihat cicin yang melingkar di tangan kananku. Cincin yang sama yang diperlihatkan Edward kepadaku. Ah Edward, he’s so nice. Cincin itu memang sengaja diperlihatkan Edward kepadaku agar aku sadar. Sadar bahwa ada pria yang mencintaiku.

Aku menoleh dan menatap pria yang berdiri disampingku. Aku mengingat surat terakhir darinya.

It’s been too long since i met you
This feeling is been too strong
We belong here together
We must face it
We are stuck with each other
Nothin we can do about it
Stuck in love with each other
So if you don’t mind
Will you Stuck with me forever?

James

Terkadang, orang yang ada dihadapan kita itu nyaris tidak terlihat. Aku tidak tahu sejak kapan James mencintai diriku, tapi aku baru menyadari satu hal. Aku sebenarnya sudah mencintai James jauh sebelum aku bertemu dengannya.

***

As_3d
Inspired by Stuck With Each Other from Shontelle featuring Akon

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing