Tugas Pertama

Bulan Keempat


Petir menggelegar dan hujan turun deras ketika aku lagi-lagi termenung. Sendirian. Sendirian lagi, dan lagi, dan lagi. Dalam lamunan, kuingat samar-samar pertengkaranku hampir kurang lebih sebulan yang lalu dengan Bara. Pria itu sama seperti namanya, mengandung api. Ia selalu bisa saja menyulut api kemarahan dalam diriku.

Aku lupa kapan pertama kali kenal dengan Bara. Sebelum kenal dengan Nero atau sesudah ya? Ah! Kenapa aku terus memikirkan Bara? Dia tidak lebih dari sekedar klien. Only a client! Iya itu harus kutanamkan dalam benakku.

Handphoneku berbunyi. Kulirik dan terlihat nama Bara. Kuhela nafasku perlahan. Kuharap ini adalah panggilan tugas, bukan nasihat percintaan lagi.

***

“Ini tugasmu berikutnya” ucap Bara dengan dingin sambil menyerahkan folder hitam kepadaku

Kubuka folder itu dengan perlahan. Didalamnya ada beberapa foto berada di folder itu. Foto-foto dari seorang wanita. Kuperkirakan umurnya tidak lebih dari 30 tahun. Wanita itu lumayan manis, walau kulitnya putih pucat. Ia seperti habis digigit darahnya oleh vampir.

“Namanya Kayana” ucap Bara “Gw ingin lo membunuhnya”

Nafasku tercekat. Kurasakan jantungku berdetak semakin cepat. Apa kata Bara? Membunuh? Aku hanyalah seorang photographer, dan dia memintaku membunuh?

“Apa?”

Bara mengeluarkan selembar kertas dan menaruhnya hati-hati dihadapanku. Kertas itu adalah cek dari salah satu bank terkenal. Cek bernilai seratus juta rupiah.

“Gw tahu lo butuh uang cepat, bukan?” desis Bara “It’s just a simple thing. You only have to give this to her”

Bara menunjukkan botol kecil berwarna putih kehadapan wajahku. Racun. Botol itu pasti berisi racun. Tubuhku mengeras. Aku tidak bisa bergerak.

Bara mengambil kursi dan duduk dihadapanku. “Kayana itu penghalang bagimu, Ve. Membunuhnya itu menguntungkanmu”

Aku mengangkat wajahku dan menatap Bara tajam. “Maksudmu?”

“Dia calon istri Nero” Bara tertawa keras. Kurasakan tawa itu menghinaku.

“Darimana lo tahu?”

“Karena gw hidup di dunia nyata, tidak seperti diri lo yang hidup di dunia mimpi. Mimpi akan Nero!” desisnya

Aku membuang muka. Ini gila. Ini sungguh gila. Mana mungkin aku harus membunuh?

Bara mendekatkan cek itu kehadapanku. “Sudahlah, Ve. Terima ini. Cek ini sudah bisa lo cairkan mulai besok. Dan lo punya waktu seminggu untuk meracuni Kayana”

Bara bangkit dari duduknya dan meninggalkanku.

***

Bulan ini, bulan keempat. Bulan dimana seharusnya aku telah membuktikan diri kepada dunia bahwa aku berhasil. Aku telah berhasil menyelesaikan studi fotografiku. Tapi bulan ini ternyata menjadi bulan terakhirku, menjadi seorang wanita yang tak bersalah.

Kubaca perlahan sms singkat dari Nero. Aku hanya bisa berkomunikasi lancar dengannya melalui tulisan, termasuk sms. Hanya sms kali ini bernada lain.

‘Hi Ve, boleh minta tolong? Aku mau nikah dan ingin buat foto prewed, bisa kamu yang jadi fotographernya?’

Aku menghela nafas. Tatapanku beralih ke arah cek dan botol berwarna putih yang terletak di meja kamarku.

***

To be or not to be continue…

As_3d
*makin absurd, makin aneh. >_<” *

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing