Pria Bernama Nero

Bulan Ketiga

Aku menghela nafas pelan. Kulihat jam putihku ditanganku, setengah tiga. Itu berarti aku sudah hampir sejam menunggu di depan cafe ini. Ingin sekali aku masuk ke dalam cafe dan duduk, menikmati dinginnya AC cafe. Tapi kuurungkan niat itu. Uang di dompetku tidak mencukupi, bahkan untuk membeli minuman termurah di cafe itu.

Pria itu akhirnya datang. Ia berjalan perlahan menuju tempatku berdiri. Ia seperti tidak tahu diri, terlambat, tapi malah berjalan lambat. Sudahlah, aku sudah bosan bertengkar dengannya.

“Ngapain berdiri aja?” ucapnya sinis. Ia langsung membuka pintu cafe dan masuk kedalamnya.

Dengan bersungut-sungut aku mengikutinya masuk ke dalam cafe.

“Mau minum apa?” ia berbalik menatapku.

Aku mengangkat bahu. “Terserah”

“kalo gw pesenin racun mau?”

Aku melotot dan menjawab sinis “Silahkan, jika itu membuatmu senang”

Ia menatapku tanpa ekspresi selama beberapa detik, lalu berbalik menatap barista cafe. “Dua racun caffein ya”

“Apa pak?” tanya sang barista bingung

BODOH!!!

***

“Jadi udah lo lakuin belum?” Pria dihadapanku menyalakan rokoknya

“Belum”

“Bego ya?”

Aku mendengus kesal. Kenapa ada pria seperti ini di dunia ini? Sama sekali tidak punya sopan santun kepada wanita.

“Iya. gw emang bego” ucapku datar

Pria itu menjentikkan abu rokoknya ke asbak dihadapannya. Ia akhirnya tersenyum, senyum geli menatapku. “Ngambek…”

Aku memalingkan wajahku. Pria ini seharusnya menolongku, tapi mengapa ia selalu menyudutkanku.

“Ve, ini sudah dua bulan. Apa yang kamu pikirkan? Tinggalkan saja. Semakin lo disana, lo semakin gila tahu ga?”

Aku tetap memalingkan wajah. Kurasakan air menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak mau terlihat cengeng. Terlebih dihadapan pria ini.

“Gw ngga bisa” ucapku bergetar “Disana ada Nero”

Pria itu memutar bola matanya dan mematikan rokoknya ke asbak. “Dasar wanita!!”

***

Pria itu bernama Nero. Dia bukan siapa-siapaku. Dia hanyalah Nero. Tapi, seperti raja bernama Nero yang membakar Yunani, Nero membakar semangatku. Aku masih ingat alasan utamaku melanjutkan pendidikan lanjutku, aku ingin lebih dekat dengan Nero. Lebih dekat dengan dunia yang digeluti Nero.

Sayangnya ketika aku memasuki sekolah itu, Nero sudah lulus. Aku sempat bertemu beberapa kali dengan Nero, tapi itu hanya sekilas saja. Ketika ku lulus, aku mengetahui Nero bergabung di sebuah yayasan untuk anak jalanan. Tanpa ragu, akupun ikut bergabung. Harapanku, aku bisa terus melihat Nero. Sayangnya harapanku tidak begitu terwujud.

“Nero itu khayalan lo aja” ucap pria itu “Dia ngga akan pernah ada”

Aku berbalik dan menatapnya marah. “Maksudnya?”

Ia menghela nafas. “Nero yang ada di pikiran lo selama ini itu ngga ada. Yang ada adalah Nero kakak kelas lo. Pria tuna runggu sederhana yang ngga akan pernah lihat keberadaan lo!”

“Dia lihat gw koq”

“Iya sebagai seorang teman. Ngga lebih”

“Hentikan!!!” aku berteriak “Mau lo apa ngomong kaya gini tentang Nero?”

“Gw mau lo sadar, Ve. Ini dunia nyata, bukan dunia fantasi lo. Lo butuh uang buat hidup, dan lo ngga akan bisa dapetin dari Nero”

Aku marah. Aku langsung berdiri menatap pria itu. “Terima kasih atas traktiran minumnya”

“Mau kemana?”

“Pulang!” teriakku sambil setengah berlari meninggalkan cafe itu. Aku selalu tidak tahan berada dekat dengan pria itu. Dan aku harus mengakui bahwa ia selalu benar. SIAL!!!

***

To be or not to be continue…

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing