Jam Putih

Bulan Pertama


Kulirik jam tangan putih yang kubeli tepat tiga tahun lalu. Ya, tiga tahun. Kuhela nafas perlahan. Aku seakan lupa apa yang seharusnya kulakukan sedetik sebelum melihat jam putih itu.

“Ve”

Aku menoleh dan tersenyum menatap Rhys. Rhys tersenyum lebar memandangku dan mengucapkan “terima kasih ya” tanpa mengeluarkan suara. Aku mengangguk. Aku berbalik dan berjalan keluar ruangan rias itu.

***

“Kerja dimana sekarang?” tanya Bude Nanik sambil memperhatikan diriku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Di Advertising Agency, bude” jawabku setengah berbohong

“Bagus” ucapnya mengangguk-angguk sambil terus mengipas-ngipas wajahnya. “Jangan lupa nanti traktir-traktir bude ya klo gaji pertama”

Aku tersenyum simpul. Tidak berani menjawab. Bude Nanik juga sepertinya tidak mengharapkan jawaban dariku, ia lalu beralih ke ponakan-ponakannya yang lain.

Aku menghela nafas. Kuangkat tangan kiriku dan menatap benda putih yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.

***

“Setengah juta!!!” ucap pria itu mendesis keras.

Pria itu melemparkan kertas yang sedari tadi ia bawa kemana-mana ke meja panjang di ruang keluarga. Ia terus mendumel akan mahalnya biaya yang harus ia keluarkan bulan ini.

“Memangnya kamu harus ikut?” desis pria itu sambil menatapku berkaca-kaca. “Perjalanan ke Malang itu mahal. siapa yang mau bayar?”

Aku menelan ludah. Tak bisa menjawab. Ya… sepertinya aku sudah kehilangan suaraku semenjak beberapa waktu.

“Sudah-sudah” wanita setengah baya itu datang dari arah dapur “Aku yang bayarin semua. Tidak usah kamu keluarkan uang sedikitpun”

Aku semakin terdiam dan hatiku semakin teriris mendengarnya.

***

Aku kembali melirik ke Jam tangan putih di tanganku. Jam ini murni kubeli dari hasil jerih payahku. Tidak begitu mahal, tapi sangat berarti, terutama selama tiga tahun terakhir.

Aku masih ingat kejadian tiga tahun lalu. Saat itu aku menyakinkan diri bahwa aku akan kembali ke kota itu membawa sebuah cerita. Saat itu aku sedang diambang kesombongan seorang manusia, calon sarjana predikat terbaik. Kenyataannya? I’m Just a ordinary Ve.

Kutatap nanar beberapa orang yang duduk mengelilingi meja putih ditengah ruangan. Seharusnya akulah yang disana, bukan Rhys. Seharusnya ayahku yang duduk disana, bukan Pakde Indra. Ya seharusnya.

Aku iri melihat kebahagian Rhys. Tapi aku tak mungkin tidak bahagia melihat sepupu terdekatku mengakhiri masa lajangnya. Aku harus bahagia, meski hati ini sedih. Lagi-lagi aku dikalahkan oleh Rhys.

“Mbak yu Ve”

Lamunanku terpecah. Aku menoleh dan menatap gadis muda yang berpakaian sama denganku “Ya Darl?”

“Pacar mba Ve kmana?”

Lagi-lagi aku terdiam…

***

To be or not to be continue…

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing