Pembohong Besar

Bulan kedua


Ia tersenyum memandangku dari balik meja besar yang belum menjadi tempatnya.

“Sebenarnya apa yang kamu inginkan?” tanyanya

Aku terdiam. Jujur, aku tidak tahu apa yang sebenernya aku inginkan. Aku hanya lelah. Aku tetap duduk membungkung dihadapannya. Mataku melayang-layang ke semua barang yang ada di ruangan itu. Mencari alasan, alasan dan penyangkalan.

“Sekarang coba lihat, apa kamu dihormati disini? Semua orang tidak ada yang menghormatimu. Tidak ada yang peduli. Kamu mau tahu kenapa? Karena kamu seperti berada di dunia sendiri. Dunia Veerle Dyana”

Nafasku sesak. Apakah seperti itu keadaannya? Sebegitu parahnya? Perlahan aku menarik nafas lebih dalam. Tapi untuk apa aku peduli? Mereka toh sudah tidak peduli denganku bukan? Ah untuk apa aku sedih? Mereka tidak sedih kehilanganku.

“Ve” pria muda itu memecahkan lamunan singkatku

“Ya?”

“Jadi? Masih mau berjuang disini?”

Aku tersenyum tipis dan mengangguk perlahan. Ah, lebih baik jadi pembohong daripada aku melukai banyak orang.

***

Sebuah getaran sms membuatku tersentak kaget. Akhir-akhir ini aku sering melamun. Sering memandang kosong. Seperti robot yang berjalan tanpa tujuan. Ada apa denganku? Mungkin ini karena aku sudah terlalu banyak meminum obat penahan sakit.

Sms itu dari sahabatku, sahabat yang telah menjadi adik angkatku, Nasya.

Mba jadi kan ke TMII?

Aku menghela nafas. Apa yang harus kulakukan? Dengan berat hati aku mengirimkan balasannya.

Maaf tidak bisa. Ada urusan mendadak.

***

“Ma, boleh pinjam ATM?” ucapku getir

“Memangnya kamu tidak punya uang?” suara ibuku meninggi “Belum gajian juga?”

Aku menelan ludah. Tidak tahu harus menjawab apa.

“Sudah. Aku pinjam. Nanti kukembalikan cash. Tp sekarang pinjam ATM”

Ibuku membuka dompetnya dan menyerahkan atm biru itu kepadaku. Aku tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih berkali-kali ke ibuku.

“ATM mu kemana?”

Aku mengalihkan pandangan ibuku dengan menyapa rekan kerjanya. Ibuku langsung berbasa-basi dengan rekannya dan tidak meneruskan perbincangannya kepadaku.

Aku menatap layar mesin atm dengan nanar. Kumasukkan kartu pertama, atm ku sendiri. Ku mengecek saldonya, dan mengeluarkannya dengan sedih. Kumasukkan kartu kedua, atm ibuku, dan mengikuti langkah dalam mesin untuk membayar rekening teleponku.

Maafkan aku, Ma…

***

Handphoneku itu bergetar. Kulirik nama yang memanggil. Ah dia. Kujauhkan handphone itu hingga masuk lebih dalam kesela-sela bantal tidurku. Selama beberapa saat kasurku bergetar akibat telpon yang masuk itu. Aku tetap memejamkan mata dan berusaha tidak merasakan apapun.

Hari ini hari ke empat. Hari keempat aku memutuskan menghilangkan semua rasa lelah. Kapan lagi aku bisa seenaknya memutuskan secara sepihak seperti ini. Untunglah aku berada di tempat yang tepat. Sayangnya tempat yang tepat ini belum bisa menampung ego ku yang terlalu besar ini.

Aku memang pembohong besar. Setidaknya aku berbohong demi kejujuran atas diriku sendiri. Tapi apa benar aku sudah jujur dengan diriku sendiri? Ah biarkan saja. Toh ini juga karena mereka yang mengajariku menjadi pembohong besar.

Kutarik selimutku dan kembali tertidur. Selamat pagi, ini saatnya untuk tidur!

***

To be or not to be continue…

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing