(Series) On the telephone

“Halo…”

“Kamu sibuk?”

“Ngga. Ada apa dear?”

“Aku mau menangis”

“Kenapa?”

“Mereka melukaiku. Mereka menginjak-injak harga diriku. Aku telah menurunkan diriku. Aku telah menunduk. Aku telah rendah hati. Aku… Aku… Aku…”

“….”

“Kenapa engkau diam?”

(helaan nafas) “Manusia egois, dear”

“….”

“Mereka semua egois! Mereka tidak akan pernah mempedulikan sedikitpun perasaanmu. Jikapun ada dari mereka yang peduli, mereka tidak bisa membantumu. Mereka hanya bisa beropini, bukan membantu”

(tangisan mulai terdengar)

(Helaan nafas)

“Maaf. aku menangis!!”

“…..”

(tangisan dan isakan) “Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Maafkan aku harus menangis. Maafkan. Hanya engkau yang bisa kupercaya. Mereka semua palsu!! Mereka semua munafik!! Aku benci mereka!!”

(Helaan nafas) “Yah begitulah”

“Aku bingung”

“Aku paham”

“Maaf karena telah menangis. Maaf karena telingamu hanya mendengar tangisku”

(tertawa) “That’s are friend are for”

“Thanks God, i still have you”

(tertawa)

To be continue…

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing