(Series) Di balik pintu

Ia mengehembuskan nafas putih ke udara tangga darurat itu. Entah sudah berapa batang setan putih itu ia hisap. Ia tak peduli. Ia sungguh marah kepada orang-orang yang sedang berkumpul beberapa meter dari tempatnya duduk menyendiri.

Enakan diapain ya? pikirnya

Racun? Pistol? Pisau?

Sebuah getaran dari ponselnya yang ia letakkan di saku blazernya membuat lamunan singkatnya terpecah.

“Halo…”

“Sibuk?”

“Tidak. Ada apa?” ucapnya sambil menghembuskan nafas putih ke udara lagi

“Aku ingin minta tolong”

“Apa?”

“Temani aku ke Bandung. Besok. Bisa?”

“Bisa” sebuah senyum merekah dari bibirnya yang menghitam. Ia mendengar suara diseberang sana berteriak gembira.

“Makasih ya, dear. That’s means a lot”

“Sama-sama dear. That’s friends are for”

“Ok. see you tommorrow. Bye”

Ia menaruh kembali telephonenya dan berdiri. Ia membuang puntung rokok ke lantai dan menginjaknya. Ia tersenyum. Akhirnya ia tersenyum setelah sepanjang minggu itu ia kesal. Ia membuka pintu tangga darurat dengan senyum pertamanya di bulan itu.

Sebuah pemandangan menyambutnya. Pria itu berdiri di depan pintu. Mendekap paksa wajah seorang wanita cantik. Mereka kaget melihat kehadirannya.

“NGAPAIN KAMU DISINI?” bentak sang pria

Senyumnya turun, dan semua perasaan gembiranya hilang.

To be continue

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing