Is it really e-commerce?

Sebuah pertanyaan menggelitik pikiran saya ketika “harus” mengobservasi perusahaan tempat saya bekerja. Apakah e-commerce yang perusahaan saya terapkan adalah benar-benar e-commerce?

Saya bekerja di The 400 Education Center, unit usaha PT. Mitra Global Sejahtera yang bergerak penyediaan jasa training IBM AS/400 dan IT Management. Perusahaan ini sudah berdiri semenjak tahun 2003 dan telah mempunyai pelanggan tetap yang berasal dari dunia perbankan.

Karena sebagian besar user yang training merupakan staff IT dari bank-bank besar di Indonesia, maka perusahaan ini menerapkan strategi pemasaran untuk seluruh produknya dengan menggunakan website. Yaitu www.400education.com (mohon maaf sebesar-besarnya. karena satu dan lain hal, website ini lagi mengalami masa perbaikan)

Dalam website ini, The 400 Education Center menampilkan semua produk training, baik yang laris hingga training-training terbaru. Lengkap dengan jadwal training, silabus training serta harga training yang kompetitif dengan pesaing-pesaingnya. Strategi menurut saya cukup efektif. Karena dengan memajang semua produk di website, maka hits user yang mengunjungi website cukup tinggi. (terbukti dari jika cari di google.co.id dengan keyword AS/400 education, maka website www.400education.com berada di paling atas, diatas website IBM, provider utama AS/400)

Jika ada pengunjung website tertarik dengan salah satu training, maka ia bisa langsung mengisi form pendaftaran yang ada di website. Lalu, beberapa saat kemudian, pengunjung website tersebut akan mendapatkan e-mail dari staff marketing perusahaan yang berisi tentang informasi lengkap training yang sebelumnya ia pilih. Informasi yang diberikan mulai dari keterangan kapan training tersebut diadakan, hingga ketentuan dateline pembayaran biaya training.

Jika dilihat, perusahaan telah menerapkan e-commerce dengan mempunyai website dengan pendekatan sell-side e-commerce sedangkan model e-commerce yang digunakan adalah B2C. Tetapi seharusnya penggunaan e-commerce itu dilakukan secara maya, baik mulai penawaran produk hingga pembayaran produk. Sedangkan yang terjadi di perusahaan ini tidak seperti itu.

Untuk proses pembayaran produk, perusahaan masih menggunakan “sistem lama” yaitu dengan masih menggunakan kertas. Untuk beberapa pelanggan, perusahaan harus terlebih dahulu mengirimkan invoice melalui faks untuk menagih pembayaran produk training.

Website tersebut untuk sebagian besar user hanyalah dijadikan sebagai e-catalog. User-user yang tertarik dengan training perusahaan sebagian akan langsung menelpon ke perusahaan, daripada harus mengisi form pendaftaran. Para user itu merasakan kepuasan mendengar penjelasan lengkap marketing perusahaan mengenai training yang mereka minati, daripada harus membaca keterangan lengkap di website.

Perusahaan akhirnya agak mengubah konsep. Selain sebagai alat promosi untuk “memajang” semua produknya, website perusahaan akan diubah menjadi sebuah website komunitas pengguna AS/400. Hal ini berarti perusahaan mengubah model e-commerce menjadi model C2B. Tujuan utamanya mengubah strategi ini adalah untuk bisa mengumpulkan para pengguna AS/400 dan mengetahui apa sesungguhnya kebutuhan training mereka.

Untuk itulah, sementara ini website perusahaan “diperbaiki”. Diketok kanan dan kiri, di cat kanan dan kiri, dan tidak bisa 100% diakses. Masih berantakan. Karena kebetulan diriku lah yang menjadi tukang reparasinya. (^,^)v Semoga hal ini tidak berlangsung lama, sehingga kegiatan marketing online perusahaan dapat berjalan seperti sedia kala.

(^,^)

As_3d

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing