Gadis berkerudung biru

Chapter I

Kuedarkan pandangan kesegala penjuru mencari wajah-wajah yang kukenal. Aku dibangunkan kaget sepagi ini oleh sahabat yang juga tetanggaku untuk mengantarkannya ke hotel bintang mewah ini. Sahabatku itu menjadi salah satu panitia acara training di hotel ini, dan karena motornya rusak, maka ia meminta bantuanku untuk mengantarnya.

Pandanganku terhenti kepada seorang wajah yang amat familier. Kupandang gadis itu secara seksama. Pagi ini ia memakai pakaian serba biru dari atas hingga bawah. Sebuah kerudung biru dengan motif bunga menyamping menutupi kepalanya dengan rapih, kerudung itu mempercerah wajahnya yang sedang sendu. Baju yang ia kenakan adalah gamis selutut dengan gradasi warna biru muda-tua di bagian bawahnya, sedang dibalik gamisnya ia mengenakan celana biru tua. Penampilannya dilengkapi dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam.

Gadis itu seakan menyadari tatapanku, ia menoleh dan menatapku. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Ia menghampiriku dengan penuh senyum.

“Hai Ger!! Pa khabar? Ikutan jadi panitia juga?” ucapnya

Aku menggeleng perlahan. Mengagumi kecantikannya yang semakin terpancar begitu ia berdiri dihadapanku.
“Baik. Alhamdulilah. Nggak. Aku nganter Firman. Tadi motornya mogok”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Kenapa ga ikutan masuk aja? duduk di barisan paling belakang?”

“Emang boleh?”

“Ya iyalah!! Masa orang seterkenal Gerald Prasetyo ga boleh ikutan?”

Aku tertawa mendengarnya. Gadis ini terlalu berlebihan memujiku. Padahal apalah arti semua yang kudapatkan selama hidupku ini, jika masih ada lubang besar ditengah-tengahnya.

“Aku ini orang biasa. Manusia penuh dosa dan hina” ucapku memelas

“Halah! Basi de lo” ucap gadis itu melambaikan tangannya “Mau masuk ngga?”

Aku menggeleng perlahan. “Duluan aja. Ntar aku ma Firman masuk kedalam”

“Oke. Gw masuk duluan ya, Ger” gadis itu berbalik dan berjalan masuk ke dalam ballroom hotel.

Aku terus memandangi punggungnya yang semakin menjauh dariku. Entah kenapa, hari ini terasa sangat berbeda ketika aku melihat gadis itu. Ada apa denganku? Apakah mungkin aku saat ini sedang jatuh cinta kepadanya?

Aku mengusap wajahku dan beristighfar. Menjernihkan pikiranku yang sudah berpikir menyimpang. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Gadis itu hanyalah Arini. Arini yang sama yang membantuku agar aku bisa dekat dengan Tika. Arini yang ceroboh, cerewet, dan bawel setiap saat. Tidaklah mungkin aku bisa menyukainya. Dia terlalu jauh dari kriteriaku.

“Hi Ger!” sebuah tepukan keras memecahkan lamunanku.

Seorang pria muda dengan pakaian jas rapih sudah berdiri disampingku. Namanya Rizal. Salah satu sahabat baruku di pengajian Ar-Rahim. Dari pakaiannya, sudah langsung kutebak, ia menjadi salah satu panitia acara. Aku terlihat dekil berdiri disebelah pria arab ini.

“Lo kesini juga?” tanya Rizal

“Iya tuh, si mata empat nyuruh gw nganterin die pagi-pagi” ucapku sedikit kesel

Rizal tertawa terbahak-bahak. “Gw kira lo pagi-pagi kesini mau ketemu Tika”

“He? Dia ada disini?”

Rizal kembali tertawa “Ya iya pastinya. Dia ketua acaranya”

Senyumku mengembang. Jantungku kurasakan berdetak lebih kencang. Adrenalinku meningkat mengetahui itu semua. Tika, wanita yang selalu kuingat hampir setiap hari, ada di hotel ini.

“Dimana dia?”

“Sapa? Tika?”

“Ya iya, masa gw mau cari Firman?”

Rizal tersenyum menyeringai. “Ada di backstage sama trainer. Mungkin juga sama calon suaminya”

Kutinju pelan bahu Rizal. “Sial lo! Nurunin semangat gw aja”

“Terserah lo mau percaya apa ngga” ucapnya sambil mengangkat bahu. “BTW, lo mau ikutan masuk nggak?”

“Mhmm… masuk deh. Sapa tau ketemu yayang Tika di dalem”

Rizal tertawa “Dasar lo! Beraninya ngomong ma gw cinta mampus ma Tika, pas udah berhadapan speechless”

Aku tertawa. “Yah namanya juga usaha.”

Suasana didalam ballroom cukup ramai. Terlihat hampir 90% kursi telah terisi. Sementara belakang Ballroom, beberapa panitia berseragam jas hitam untuk pria dan pakaian biru untuk wanita duduk di deretan kursi dekat dua pintu keluar ballroom, pintu sisi kanan dan kiri. Aku diajak Rizal duduk di sisi kanan, tempat para pria duduk. Karena ini merupakan pelatihan bernafaskan islami, jelas baik pria dan wanita duduk terpisah.

Aku menoleh kearah kiri tempat duduk panitia wanita, dan wajah pertama yang kutemukan adalah wajah Arini. Baru kusadari, hari ini Arini memakai make up. Sungguh suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Wajahnya memerah, tidak sepucat biasanya. Bulu matanya lentik dan tidak terlihat lengkung hitam dibawah matanya. Dan… bibirnya pun tidak sekering biasa kulihat, melainkan berwarna pink cerah.

“Lo nyari Tika?” sebuah bisikan memecahkan lamunanku

Aku menoleh menatap Rizal. “Ha?”

“Lo nyariin Tika?”

Aku menggeleng dan tersenyum penuh makna. “Nggak. Kata lo Tika di Backstage, khan?”

“Emang. Nah lo tadi nyari sapa liat-liat ke akhwat?”

Aku tersenyum penuh makna, dan menaikkan bahuku.

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing