Gadis berkerudung biru Chapter II

Chapter II

Aku menghela nafas berat. Berat sekali. Kucoba untuk mengangkat kepalaku dan tersenyum normal. Tidak jauh dari tempatku duduk, Arini duduk. Ia duduk sendiri dengan wajah sedih. Sesuatu yang jarang terjadi menimpa arini, kesedihan.

Tepat setahun lalu, aku mulai memandang Arini dengan tatapan berbeda. Ia memang berbeda dengan yang lain. Tapi, ada rasa enggan untuk mendekati dirinya lebih jauh. Ia selalu memandang semua pria sama. Sebagai sahabatnya. Belum pernah aku mendengar ia suka dengan salah satu dengan sahabat-sahabatnya. Termasuk diriku.

Aku akhirnya mengumpulkan semua keberanianku untuk mengungkapkan rasa hatiku kepadanya. Saat itu timingnya benar-benar tepat. Kami ada acara hingga larut malam, dan ia meminta tolong diriku untuk mengantarkannya pulang. Dengan semangat, langsung kurencanakan skenario melamar dirinya.

“Rin, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku ketika kami sudah didalam mobil
“Ya? apa?”
Senyumku mengembang “Aku mau tanya pendapat”
“Ya?”
“Aku punya sahabat, dia teman curhatku. Dia cewe. Dan semakin lama aku semakin menyukainya”
“Kemudian?”

Sebuah dering hp berbunyi. Arini mengangkat hpnya. Aku mengikuti arah pembicaraan dirinya dengan si penelpon. Sepertinya ia sedang berbicara dengan pria. Mereka merencanakan sesuatu untuk berpergian. Tak lama dia menyudahi pembicaran dengan kata-kata mesra.

Entah apa perasaanku saat itu. Cemburu? Marah? Sedih? mungkin semuanya. Tapi akupun tidak berhak mencegahnya berbuat hal itu. Siapa diriku untuk Arini? Pembicaraan kami pun tidak selesai. Aku belum sempat mengatakan apapun, sedangkan mobilku sudah berhenti didepan rumahnya.

Arini seperti melupakan pembicaraan yang kumulai, ia langsung tersenyum dan berkata terima kasih banyak, lalu keluar dari mobilku. Akupun tak bisa berkata apa-apa. Sudah kaku lidahku untuk berbicara.

Hampir setengah tahun berlalu semenjak kejadian di mobilku. Tidak banyak yang kutahu tentang kabar Arini selama itu. Dia sudah sibuk dengan karirnya, akupun juga sibuk dengan pekerjaanku sendiri. Dan saat ini, dia duduk dihadapanku, termenung penuh dengan gurat kesedihan.

Aku hendak menghampirinya, tapi Rizal mendahuluiku. Melihat mereka berdua bersama, timbul perasaan iriku. Lalu tiba-tiba mataku ditutup dari belakang. Belum sempat kuprotes, sebuah nyanyian keras selamat ulang tahun menggema di rumah itu.

Perlahan, mataku dibuka dan kulihat wajah manis Dini menghantarkan kue tart ulang tahun kehadapanku. Aku salah tingkah. Antara bahagia dan kaget. Aku sempat menoleh kearah Arini. Ia mencoba tersenyum, walau terlihat jelas guratan kesedihan.

“Selamat ulang tahun ya Ger! Wish u all the best” ucapnya Arini

Walau ia bukan yang pertama kali mengucapkannya, ataupun yang terakhir. Ucapan dari dialah yang tetap membekas dihatiku. Aku tersenyum memandang kedua matanya.

“Thanks Rin, Loe baik banget ma gw”

Arini tersenyum tipis dan berbalik menuju arah lain. Entah mengapa, aku merasakan ada yang berbeda dengannya. Sesuatu telah mengikat diriku kepadanya, tapi apakah dirinya merasakan hal yang sama?

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Mumble-ing