Hujan Malam Ini

Jumat, jam sembilan malam,

Malam ini hujan turun merata diseluruh penjuru Jakarta. Aku jatuh cinta dengan hujan semenjak dulu, tapi jangan salah, aku bukanlah pengikut trend. Walau meski sekarang si hujan sudah seperti artis, semua orang mencintainya, tapi percayalah aku selalu mencintai hujan semenjak kecil.

Dulu ketika aku masih menginjak masa abg, aku selalu dapat memperkirakan dengan tepat kapan hujan akan turun. Bahkan ketika matahari masih terik-teriknya, aku dapat meramalkan bahwa semenit kemudian akan hujan. Ramalanku selalu tepat. Bahkan dulu sempat terpikir, mungkin aku cocok jika menjadi pawang hujan. Sayangnya, aku hanya bisa meramalkan kapan hujan turun, tanpa bisa memberhentikannya seperti halnya seorang pawang hujan.

Pesanan makananku datang, spaghetti bolognese ukuran besar yang membuat teman makanku terperangah. Sebenarnya bukan hanya dia yang melongo melihat pesananku, aku juga. Ia dengan wajah eneg menggelengkan kepalanya. Aku tertawa lepas.

Sebenarnya, aku ingin cerita, Rid.”

Hujan membuat udara didalam mobil sedan yang sedang kami naikki semakin mendingin. Terlebih ketika nada bicara pria itu menjadi serius. Aku menelan ludah. Perasaanku menjadi nggak enak, bulu kudukku naik dan kurasakan jantungku semakin berdetak kencang.

Apa?” jawabku nyaris bergetar. Suaraku ikut-ikutan gugup.

Aku lagi deket sama cewek.”

DEG! Dia sedang membicarakanku? Ah geer. Eh tapi dia bukannya deketnya sama aku aja?

Dia sahabatku, Rid. Dan aku ndak enak ngasih tahu dia, kalo…”

DEG!! Tuhan… Dia mau menyatakan cintanya kepadaku. Aduh. Aku gak bisa cinta dia. Aku harus nolak dia. Duh, nggak enak ini. Duh, gimana ini?

Aku takut nih, Rid.” Pria itu mengecilkan volume musik metal yang sedari tadi menggema dalam sedannya.

Aku menelan ludah, berdoa semoga cepat sampai rumah. Tapi ia malah semakin memperlambat kecepatan mobilnya. Aku memandangi rintik-rintik hujan yang menempel di kaca sedan sambil berdoa asal.

Tuhan, tolong aku ingin pulang cepat.
Tuhan, aku tidak mau diperkosa olehnya.

Duh! Koq jadi kepikiran doa seperti ini? Buruk banget sih pikiranku.

Tiba-tiba tangan pria itu sudah berada di paha kananku. Aku spontan melotot menatapnya dan menepis tangannya kasar.

Pan, gw turun disini. SEKARANG!”

“Rid, minta spaghettinya lagi yah?”

Aku tersenyum. “Silahkan, darling.”

***

Jumat, jam sepuluh malam,

Aku cemburuan, teramat sangat cemburuan. Terlebih kepada dia.

Malam itu hujan disertai petir menyambar beberapa kali. Pria itu berdiri menyender di salah satu pilar gedung dengan cuek dan sibuk mengepulkan asap rokoknya ke langit-langit. Badannya semakin menghitam dan membesar dibandingkan dua tahun yang lalu. Pria itu sendirian, tapi dengan jelas aku melihat sebuah cincin emas melingkar di jari manisnya.

Hai Bang Putra!” sapaku dengan nada suara serenyah mungkin.

Pria itu menoleh dan tersenyum lebar kepadaku. Senyum yang membuatku tergila-gila kepadanya, sampai sekarang. Ia menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya hingga apinya mati.

Jika itu pria lain, aku sudah melototinnya marah. Kemudian tanpa kata-kata menyuruhnya mengambil puntung rokok itu dan membuangnya ditempat semestinya. Tapi ini adalah Putra, pria yang menghiasi mimpiku beberapa tahun lalu.

“Cantik!!!” sapanya hangat sambil mengulurkan tangan besarnya.

Aku tersenyum lebar, senang dipanggil cantik olehnya. Aku menjabat tangannya erat. Yah, hanya sebatas itu hubungan kami, sampai jabat tangan saja.

Bagaimana kabarmu? Oya, Koq sendirian? Winta mana?”

Senyumku menggantung. Aku mulai memasang wajah muna. “Baik, bang. Iya, sendirian. Winta sedang sakit tidak bisa datang.”

Yah sayang sekali yah, padahal aku kangen lho ngobrol masalah percintaan ma Winta.” ucapnya diakhiri dengan tawa renyah.

Aku tetap mempertahankan senyumanku. Yah, aku cemburuan. Pria yang masih ada dibenakku sampai sekarang menanyakan sahabatku juga. Aku cemburu!

“Astaghfirullah, WINTA!!!” teriakku ketika tidak sengaja bertemu dengan sahabatku ditengah jalan. Aku dan Winta langsung berpelukan erat beberapa lama dan saling cipika-cipiki.

“Kita udah lama banget yah nggak ketemu?” ucap Winta yang langsung merangkul pinggangku.

“Iyah. Gw kangen berat sama lo. Kangen curhat-curhat cantik.”

Winta terkikik. “Iya nih, kangen kumpul-kumpul sama uni dan dede.”

Pria yang sedang berdiri dihadapan kami berdiri canggung melihat kami. Aku tersadar, dan langsung memperkenalkannya. “Win, kenalin ini Rizki. Ki, kenalin ini sahabat kecil gw, Winta.”

Mereka bersalaman. Dan tahukah engkau? Aku kembali cemburu.

***

Jumat, jam sebelas malam,

Aku menghela nafas, akhirnya aku sendirian. Entah harus sedih karena sudah berpisah dengan semua temanku malam ini, atau bahagia karena akhirnya aku bisa sendirian setelah semua keributan yang terjadi selama delapan belas jam terakhir. Perasaanku saat ini hanya kosong. Hampa.

Seharusnya aku sudah berada di rumah jam segini, tapi kenyataannya aku masih sangat jauh dari rumah. Aku menginjak pedal gas mobilku semakin dalam, mengebut sepertinya menyenangkan.

Aku menatap kesal kearah dua kakak beradik itu. Malam itu, hujan kembali menyirami Jakarta. Aku mati gaya, kebingungan tidak bisa pulang ke rumah. Dan mereka memperlakukanku bagai bola pingpong, dilempar kekanan kiri, ketika ku bertanya, apa aku bisa numpang pulang bersama mereka. Si kakak menyuruhku bertanya kepada adiknya, si adik malah bilang terserah kakaknya karena dia hanya numpang mobilnya malam itu.

Malam itu kondisiku lumayan buruk. Emosi meningkat seharian karena merasa tidak diperlakukan adil oleh perusahaan tempatku bekerja, kehujanan, dan akhirnya aku memutuskan untuk melarikan diri sejenak. Mencari hiburan yang menyegarkan jiwa dan raga. Pergi ke pengajian. Alim bukan? Tapi sayangnya niat menjadi alim hancur berantakan ketika melihat Putra disana, bersama Pandu.

Putra dan Pandu, kedua kakak beradik itu sukses membuat emosiku semakin membara. Aku nyaris saja berteriak memaksakan kehendak mereka untuk mengantarkanku pulang, ketika Putra dengan wajah jahilnya menarik ujung jilbabku.

“Marah ya, dek?”

SIAL! Aku tidak pernah bisa marah kepada wajah itu. Sedetik kemudian, kemarahanku mencair seketika. Aku membuang muka, berusaha agar tidak terlihat terpesona dengan wajah jahil Putra.

Ya udah lah. Kalo emang abang tidak mau aku nebeng, aku jalan kaki aja pulang dari sini.” ucapku ngaco. Karena tidaklah mungkin aku berjalan kaki dari rumah tempat pengajian sampai rumah, terlebih saat itu jam sudah menunjukkan nyaris tengah malam.

Putra tertawa renyah, dan mengedipkan sebelah matanya. “Boleh, adik cantik. Yuks, pulang. Anak gadis nggak boleh pulang lewat dari jam dua belas.”

Aku tersenyum bahagia, lega akhirnya sikap ngambekku berhasil meluluhkan hati Putra. Walau dari ekor mataku, aku dapat melihat sorotan mata kesal Pandu. Ah, tidak. Aku harus pulang bersama Pandu juga.

Aku membelokkan mobilku memasuki areal komplek perumahan dan memperlahan laju mobilku. Ketika sampai didepan sebuah jalan, aku menepi dan berhenti. Aku menatap kosong pemandangan gelap jalan itu.

Bang, koq lewat sini?” ucapku sedikit panik ketika menyadari ada yang aneh dari sikap kedua kakak beradik itu.

Kalo lewat jalan utama, pasti akan macet.” jawab Putra enteng.

Ah yang benar saja? Aku bisa nyetir, dan aku tahu jalan-jalan yang ada di areal komplek perumahan ini. Tidak mungkin tengah malam jalanan masih macet. Kecuali jika ada patas AC yang mogok tengah jalan. Tapi itupun jarang sekali terjadi.

Tapi bukannya protes, aku malah diam dan pasrah. Aku yang biasanya cerewet, menjadi pendiam. Aku menyenderkan punggungku kejok belakang sedan milik Putra semakin dalam. Antara takut, deg-degan, juga bahagia.

Rid, sebenernya, Pandu mau ngomong serius sama lo.” tiba-tiba nada bicara Putra menjadi serius.

Ya?” ucapku bergetar. “Apa?”

Putra menoleh kebelakang menatapku sedetik, dan berpaling ke Pandu. “Ndu, sebaiknya lo pindah duduk disebelah Ridla dibelakang.”

Aku menelan ludah sebanyak mungkin.

Aku menghela nafas berat. Pandanganku masih tetap kearah jalanan gelap itu, hingga kurasakan mataku memanas. Air mataku akhirnya tumpah. Oh, kenapa aku begitu bodoh selama ini?

***

Sabtu, setengah tiga pagi,

Aku merindukan semuanya. Aku merindukan lelucon buruknya, aku merindukan tawa renyahnya, aku merindukan sikap bodohnya, terlebih aku merindukan bau tubuh campur aduk miliknya. Entah sejak kapan aku benar-benar merindukannya, entah sejak kapan aku mulai memimpikannya, entah sejak kapan aku mulai mencintainya. Entahlah…

Pria itu berdiri tidak jauh dariku. Berdiri mematung ditengah kerumunan orang. Akupun mematung. Tubuhku membeku seketika ketika menyadari kehadirannya disekitarku. Kami tidak menyapa. Kami hanya saling memunggungi sepanjang waktu. Asing. Aku dan dia seperti menjadi asing.

Wah, kalian datang berdua?” sapaan itu memecahkan kebekuan yang terjadi. Aku tersenyum muna dan mengangguk pelan. Pria disebelahku mengangguk pelan.

Wah, ternyata teman SDku malah berpasangan dengan teman SMAku.” ucap Firman terkekeh. “Dunia yang sangat sempit yah?”

Malam itu kami sedang menghadiri resepsi pernikahan Firman, sahabat SMAku, yang bernuansa garden party. Aku hanya tersenyum seadanya, tidak tahu harus bersikap apa. Pria jangkung disebelahku bukan siapa-siapa, bahkan aku tidak tahu mengapa tiba-tiba malah bisa berdekatan dengan pria itu. Aku menoleh mencari dirinya. Aku masih bisa merasakan aroma tubuhnya, tapi sosoknya sudah tidak lagi disekitarku. Ia sudah menghilang. Menghilang selamanya dari hidupku.

Aku mengambil ponsel pintar buah hitamku. Mencari namanya, dan menuliskan sebuah kalimat,

Hujan malam ini membuatku sedih!

***

As_3d

Tangerang, 9 Juni 2012, dini hari.

About these ads

Menurutmu cerita ini bagaimana?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.