Green Nails
29 Nov 2011 1 Comment
in Karyaku
Kuketuk-ketukkan jari jemariku diatas meja restoran mahal dengan dekorasi yang sengaja dibuat sesedehana mungkin. Restoran kaki lima dengan harga bintang lima. Seharusnya pesanan fish and chips ku sudah datang sedari tadi, tapi sepertinya restoran mahal ini kekurangan koki sehingga aku harus menunggu cukup lama.
Aku menghela nafas perlahan menstabilkan emosi tidak sabaranku dan memandang lurus keluar restoran, menatap laut yang terbentang luas. Hari ini adalah hari ke empat aku melarikan diri. Lebih tepatnya bukan melarikan diri, tapi menghilang. Menghilang dari keras dan kejamnya Jakarta, menuju sebuah pulau nyaris tidak berpenghuni di timur Indonesia. Pulau yang tidak akan mungkin dipikirkan oleh orang-orang yang mengaku mengkhawatirkanku. Ya, menghilang dari orang-orang munafik itu…
Sebuah Pertanyaan Pernyataan
16 Nov 2011 Leave a Comment
in Karyaku
Jenna tertegun membaca pesan singkat yang ia terima beberapa detik sebelumnya. Raut wajahnya tidak menyiratkan kesedihan ataupun kegembiraan, hanya tatapan kosong. Bahkan tanpa ekspresi.
“Kenapa, Jen?” ucapku perhatian.
Jenna menoleh menatapku dan tersenyum lebar. Ia terlihat jelas menyembunyikan sesuatu. Aku langsung tidak percaya dengan semua raut wajah bahagia yang ia selalu tampilkan dihadapanku.
“Nothing. Just another worry sms from him.” ucapnya ceria.
Him? Entah mengapa kata ganti orang ketiga itu mengangguku. Ingin hatiku bertanya lebih lanjut, tapi siapakah diriku menanyakan sesuatu hal pribadi kepada Jenna? Ah ini menyedihkan, aku mengingkari hatiku sendiri.
“Mana pacarmu, Gung?”
Giliran aku tertawa lepas. “Pacar apa? Siapa?”
“Bukankah kemarin dirimu mengatakan baru jadian sama seseorang?”
Aku masih tertawa lepas. Tawa kebohongan. “Iya, kemaren baru nembak cewek. Dan dijawab dengan terlalu diplomatis.”
“Diplomatis? Maksudnya?”
“Dia jawab, aku Canon, mas.”
“Ha? kok Canon? Kamera?”
Aku mengangguk dan tersenyum penuh makna.
“Terus?”
“Ya, kujawab dengan pasti, Aku Nikon!”
Ia memutar bola matanya. “Dasar!”
***
Click Klak!
14 Nov 2011 Leave a Comment
in Karyaku
“Klik!”
Sebuah kilatan lampu kamera membuat mataku buta sesaat. Pria itu menangkap gambarku dengan candid. Benar-benar iseng. Aku berkali-kali mengedipkan mataku agar bisa melihat dengan normal.
Kamera itu disodorkan kepadaku, pria itu memperlihatkan preview candidnya dia.
“Lumayan jelek!” tawanya.
Aku mendengus kesal. “Yeah, sure!” ucapku sambil melihat preview foto-fotonya yang lain.
“Ga usah sensi kek gitu, udah bagus juga mau gw fotoin.”
“Gw nggak minta, dan aku dari dulu tidak pernah suka difoto.”
“Hayah gayaa…” ucapnya sambil menoyor kepalaku. “Itu apa facebook isinya cuma foto-foto semua.”
Aku menjulurkan lidahku. Dan entah dari mana, sebuah kilatan cahaya mengenai wajahku.
“HEH!” teriakku. “Iseng banget sih, foto gw saat nggak siap?”
Pria itu tertawa sambil kembali memasukkan kamera sakunya. Entah seperti apa wajahku dengan lidah keluar seperti itu.
***
Seharusnya aku memarahi jari-jari nakalku yang membuka sebuah situs tempat orang-orang memajang hasil jepretannya. Seharusnya jari-jariku tidak bandel dan menuruti kata hatiku untuk tidak membuka akun milik pria itu. Yaa… seharusnya…
Di akun miliknya hanya ada tiga foto. Tiga foto diriku. Tiga foto candidku.
***
Tiga Pasang Kaki di Tiga Ratus Kaki
25 Oct 2011 5 Comments
in Karyaku
Tiga kaki pilar menempuh perjalanan bersama dari ibukota.
Berangkat dengan senyum, tawa dan juga lelah dari beban pekerjaan.
500km melambaikan tangan ke arah wanita api emas, mengucapkan salam kehormatan kepada keturunan Sultan Agung.
Tiga pasang kaki membawa misi, misi cantik, secantik pemiliknya.
Tiga pasang kaki, Tiga ratus kaki di atas permukaan laut, Tiga hati, Tiga Cinta.
Sesudah Ia Pergi
24 Oct 2011 Leave a Comment
in Karyaku
Dia disana duduk dengan tawa mengemaskannya. Seandainya saja ia tahu, ia terlalu mengemaskan untuk kulewatkan, untuk tidak ku peluk atau ku cium, ya seandainya ia tahu. Ah bicara apa aku ini, aku terlalu banyak berkhayal, terlalu tebal dinding yang menghalangi kami. Dinding…?
Dia duduk disana, duduk lesehan bercanda dengan sahabatku, duduk memeluk tasku. Seakan tidak mau kehilanganku. Benarkah….?
Aku harus mengacuhkan semua perasaanku. Ini terlalu indah, terlalu bagus, terlalu… Nyata.
Aku menghela nafasku sebelum duduk di hadapannya. Berusaha menata hati, berusaha meyakinkan diri, berusaha agar tidak benar-benar… Terjatuh.
***





